Ketika suatu saat kita melintas dan berpapasan dengan seseorang, maka reflek kita akan menatap wajahnya, lalu secepat itu pula kita akan melontarkan senyum sapaan kepadanya. Lalu kita akan mendapatkan balasan yang sama sebagai refleksi dari sikap kita yang telah menghadiahkan "keindahan" kepadanya.
Pada saat yang lain kita akan berjumpa dengan orang yang tidak membalas senyuman kita. Orang itu tetap cemberut meski kita telah menunjukkan wajah yang manis. Kita tidak menyesal telah memberinya senyum, karena senyuman itu adalah mudah dan menyehatkan. Terlebih lagi ia adalah suatu perbuatan mulia karena dalam Islam hal itu dikategorikan sebagai shadaqah. Perkara apakah orang lain akan membalasnya atau tidak, maka itu adalah urusannya sendiri.
Setelah berada di kamar, kita bercermin sembari memperhatikan kondisi fisik wajah kita. Apakah ada jerawat? Atau ada sesuatu yang berkurang keindahannya.... Alhamdulillaah... baik-baik saja. Maka kita segera tersenyum pada cermin dan kita akan melihat wajah di dalam kaca itu membalas senyum kita dengan tulus. Hati kita semakin merasakan kebahagiaan oleh sesuatu yang sederhana.
Betapa senyuman itu adalah hal yang remeh namun tidak semua orang dikaruniai hal ini. Banyak kita jumpai orang-orang yang berwajah cemberut terus-menerus seperti sedang dihimpit oleh masalah sepanjang masa. Dan ada pula yang wajahnya dihiasi senyum namun dengan tatapan kosong, yang akan memupuskan keindahan senyum......
Alhamdulillaah.... kita masih diberi kesempatan dalam hidup ini untuk menghadiahkan hal yang remeh namun ternyata banyak orang tak mampu untuk menghadirkan hal ini. Yakni senyum......
&
Minggu, 25 Oktober 2015
Jumat, 23 Oktober 2015
Fokus
Pernahkan anda merasakan ketika sedang melakukan sesuatu lantas tiba-tiba menjadi salah tingkah karena merasa ada orang yang mengamati anda? Padahal belum tentu orang itu melakukan hal demikian. Itu perasaan anda saja. Bahkan apabila benar dia melakukannya, apa urusan kita? Apa pentingnya bagi kita? Kecuali jika dia bermaksud jahat, itu lain hal.
Ketika melakukan sesuatu yang penting maka sikap yang demikian itu akan sangat mengurangi konsentrasi sehingga hasil yang dicapai tidak akan maksimal, karena energi tidak fokus dan terbagi ke banyak sudut yang mestinya tak perlu.
Mirip seorang peserta lomba maraton yang sibuk menanggapi komentar para penonton, maka tugas utamanya untuk berlari dengan irama dan kecepatan tertentu menjadi tertanggu. Alhasil bisa ditebak, semua itu terjadi karena banyaknya energi yang terbuang lantaran mengurusi hal-hal yang tidak perlu dan bukan tujuan perjalanannya.
Maka fokuslah. Tak ada yang membahayakan diri seseorang selagi ia melangkah dalam kesibukan yang positif dan tidak mengganggu hak orang lain. Singkat namun itulah praktiknya.
&
Ketika melakukan sesuatu yang penting maka sikap yang demikian itu akan sangat mengurangi konsentrasi sehingga hasil yang dicapai tidak akan maksimal, karena energi tidak fokus dan terbagi ke banyak sudut yang mestinya tak perlu.
Mirip seorang peserta lomba maraton yang sibuk menanggapi komentar para penonton, maka tugas utamanya untuk berlari dengan irama dan kecepatan tertentu menjadi tertanggu. Alhasil bisa ditebak, semua itu terjadi karena banyaknya energi yang terbuang lantaran mengurusi hal-hal yang tidak perlu dan bukan tujuan perjalanannya.
Maka fokuslah. Tak ada yang membahayakan diri seseorang selagi ia melangkah dalam kesibukan yang positif dan tidak mengganggu hak orang lain. Singkat namun itulah praktiknya.
&
Cara Hidup Senang dan Bahagia
Bicara senang atau bahagia, maka ini jelas perkara hati. Maka seharusnya kita setuju bahwa hal ini tidak berbanding lurus dengan banyaknya materi yang kita miliki. Artinya, bila seseorang itu kaya harta, maka tidak serta merta ia menjadi senang atau bahagia. Bahkan yang sering kita jumpai adalah banyak orang kaya yang merana dan kehilangan makna hidupnya lantaran jenuh tak mendapatkan lagi apa yang harus ia cari.
Nah sekarang cobalah kita mengamati bagaimana orang yang hilang akalnya mayoritas mengumbar senyum atau bahkan sering tertawa. Jika kita berfikir positif dan mencoba memahami perasaannya, maka pastilah ia sedang merasakan sesuatu yang menyenangkan hatinya. Meskipun tak ada satupun di antara kita yang bersedia untuk menjadi orang yang kehilangan akal. Ini jelas.
Jika kita fikir lebih mendalam, maka yang namanya senang dan bahagia itu adalah refleksi dari rasa puas karena jiwa kita telah rela terhadap suatu keadaan. Artinya, kunci perasaan senang tadi adalah kepuasan. Padahal yang namanya puas adalah relatif, apakah cukup dengan uang Rp. 1000, atau Rp. 5000, atau lebih banyak lagi. Nah makin tinggi yang kita inginkan maka rasa puas yang harus kita daki adalah semakin tinggi. Dan ini tentu memicu kelelahan jiwa untuk menggapainya apabila telah sampai pada angka tertentu yang sulit atau bahkan tidak mungkin dijangkau oleh kemampuan kita. Nah di sinilah letak persoalannya.....
Siapapun orangnya, dimanapun dan kapanpun, kerelaan dan bersyukur adalah kunci dan syarat mutlak untuk hidup bahagia. Meskipun kita memiliki harta sebanyak bumi dan angkasa, jika hati kita menolak untuk mensyukurinya, maka jangan harap bahagia itu akan datang. Maka bahagia itu sesungguhnya tidak jauh dari diri kita, bahkan ada pada diri kita. Bahkan setiap orang berhak dan mudah mencapainya karena semua itu ada di dalam hati setiap insan yang terbebas dari keserakahan....
&
Label:
bahagia,
cara,
cara hidup senang,
senang,
tip
Langganan:
Postingan (Atom)