Minggu, 25 Oktober 2015

Senyum

Ketika suatu saat kita melintas dan berpapasan dengan seseorang, maka reflek kita akan menatap wajahnya, lalu secepat itu pula kita akan melontarkan senyum sapaan kepadanya. Lalu kita akan mendapatkan balasan yang sama sebagai refleksi dari sikap kita yang telah menghadiahkan "keindahan" kepadanya.

Pada saat yang lain kita akan berjumpa dengan orang yang tidak membalas senyuman kita. Orang itu tetap cemberut meski kita  telah menunjukkan wajah yang manis. Kita tidak menyesal telah memberinya senyum, karena senyuman itu adalah mudah dan menyehatkan. Terlebih lagi ia adalah suatu perbuatan mulia karena dalam Islam hal itu dikategorikan sebagai shadaqah. Perkara apakah orang lain akan membalasnya atau tidak, maka itu adalah urusannya sendiri.

Setelah berada di kamar, kita bercermin sembari memperhatikan kondisi fisik wajah kita. Apakah ada jerawat? Atau ada sesuatu yang berkurang keindahannya.... Alhamdulillaah... baik-baik saja. Maka kita segera tersenyum pada cermin dan kita akan melihat wajah di dalam kaca itu membalas senyum kita dengan tulus. Hati kita semakin merasakan kebahagiaan oleh sesuatu yang sederhana.

Betapa senyuman itu adalah hal yang remeh namun tidak semua orang dikaruniai hal ini. Banyak kita jumpai orang-orang yang berwajah cemberut terus-menerus seperti sedang dihimpit oleh masalah sepanjang masa. Dan ada pula yang wajahnya dihiasi senyum namun dengan tatapan kosong, yang akan memupuskan keindahan senyum......

Alhamdulillaah.... kita masih diberi kesempatan dalam hidup ini untuk menghadiahkan hal yang remeh namun ternyata banyak orang tak mampu untuk menghadirkan hal ini. Yakni senyum......

&

Tidak ada komentar:

Posting Komentar