Minggu, 06 Desember 2015

Mencoba Hal Baru

Persis seperti balita yang sedang belajar berjalan, maka semua aktifitas manusia akan mengikuti tahapan seperti itu. Mula-mula heran, lalu mencari tahu dan kenal. Maka hal demikian itu bisa dikatakan sebagai kegiatan belajar.

Mencoba hal baru adalah sebuah petualangan yang mengasyikkan. Dan hendaknya setiap petualang merasakan dan menyadari bahwa hal ini bukanlah "paksaan" sama sekali. Karena perasaan yang terpaksa tentu akan memberikan dampak tertekan yang membuat diri tidak nyaman.

Mengenal dan mempelajari ajaran Islam adalah langkah tepat jika diniatkan untuk mencari kebenaran dalam melakukannya. Namun jika tujuannya adalah untuk mencari-cari kesalahan dan kekurangannya, maka bersiaplah untuk menjadi orang yang tersesat sejauh-jauhnya.

Selamat berjuang.

Jumat, 04 Desember 2015

Jiwaku Damai

Hati yang merasakan jenuh, risau, galau, iri, dengki, resah dan lain-lain adalah indikasi bahwa jiwa tersebut sedang tidak sehat. Nah lalu bagaimana dan kemana berobatnya?

Penyakit fisik jelas tempat berobat dan siapa yang menanganinya. Sedangkan obat penyakit jiwa mungkin bisa dibantu oleh ahli spiritual atau tokoh agama misalnya, akan tetapi yang terutama adalah kesiapan jiwa itu sendiri untuk sembuh dan menjadi sehat dengan mengikuti resep yang ditawarkan oleh banyak opsi itu.

Sesungguhnya keserakahan tidak akan membawa kebahagiaan. Karena ia telah menorehkan luka dan penindasan kepada sesama. Dan hati yang tercipta untuk sebuah kedamaian "pasti" akan meresponnya dengan menanggung rasa "sakit" yang hanya dirasakan oleh pelaku keserakahan itu.

Jika kemudian kamu beranggapan bahwa dengan kelakuanmu yang semena-mena itu kamu merasa aman untuk hidup di dunia  ini dan masuk surga menurut anggapanmu, maka hal itu salah besar. Ingatlah, hanya kebodohan kita saja yang mengklaim demikian. Cobalah renungkan, apakah dunia ini diciptakan hanya untuk kesenanganmu saja ? Sementara orang lain hidup dalam penindasanmu ? Jika itu benar, maka bagaimana perasaanmu jika kamu sebagai orang yang tertindas? Dan pasti kamu akan mengatakan bahwa itu tidak mungkin. Ya, karena kamu sudah dikuasai oleh angkara murka sehingga pola fikir pun akan tidak adil terhadap alam ini bahkan terhadap diri sendiri.

Jika hidup ini dianggap sebuah petualangan, kenapa kamu tidak memperhatikan kenapa kaum Muslimin itu setiap hari sujud lima kali, apa yang mereka dapatkan? Jika kita tidak tahu kenapa tidak mencari tahu? Kenapa kamu tidak berpetualang untuk mencari alasan mereka berbuat demikian ?

Hanya orang yang sudah mati hatinya yang berkeyakinan bahwa "Kekhawatiran hanyalah milik orang-orang yang bodoh". Bahkan kebenaran dari Tuhan pun ditertawakan dan menjadi bahan olok-olokan. Apakah kamu yakin bahwa ketika hidup di dunia ini berakhir kamu akan berada di tempat yang mulia dan penuh kegembiraan? Sementara kelakuanmu di dunia ini penuh dengan kejahatan? Jika demikian alangkah tidak adilnya Tuhan. Atau bahkan menurut anggapanmu Tuhan itu memang tidak ada? Nah, nah.... cobalah cari tahu tentang hal itu. Mumpung kamu masih hidup di dunia ini. Mumpung akal fikiran dan ragamu sehat dan waktumu masih luang untuk melakukan hal itu....

&

Jalan Kebenaran

Hidup ini hanya sekali. Ya, hanya sekali di dunia fana ini. Itu jika menurut logika kita saat ini. Namun harus diingat bahwa diakui atau tidak kemampuan akal kita adalah sangat terbatas, karena banyak fenomena yang kita jumpai pada akhirnya tidak mampu dianalisa maupun dipecahkan oleh akal fikiran kita. Lalu apa sesungguhnya yang terjadi?

Dalam hal yang dirasakan penuh pertanyaan ini, maka kita butuh referensi. Ketahuilah bahwa referensi itu haruslah akurat dan tidak syak lagi akan kebenarannya. Maka jika dirimu pada suatu waktu tertentu menemui kebuntuan untuk berfikir sesuatu, maka cobalah kau membuka kembali apa yang dinamakan wahyu dari Tuhan. Wahyu yang mana? Agama yang mana?

Semua agama mengklaim merekalah yang paling benar. Akan tetapi tidak perlu bingung, karena manusia telah dibekali naluri yang selalu menuju pada kebenaran mutlak itu. Maka jika nurani tidak ternodai oleh fikiran atau faham yang mengotorinya, niscaya dia akan sampai pada suatu pengakuan bahwa yang namanya "Paling" itu adalah hanya satu. Yang namanya "Super" itu hendaknya hanyalah satu. Dan "Yang Terhebat" itu hanya satu. "Yang juara segalanya" itu hanyalah satu. Dan itu semua dapat kamu temui dalam Islam. Kenapa Islam ? Karena hanya Islam lah satu-satunya agama yang memiliki konsep ketuhanan yang jelas dan tidak membingungkan. Mudah dipahami bahkan oleh seorang yang dikatakan tidak berilmu sekalipun. Karena ia tahu bahwa "Yang Maha Hebat" itu hanya satu dan tidak mungkin lebih dari itu.....

&


Minggu, 25 Oktober 2015

Senyum

Ketika suatu saat kita melintas dan berpapasan dengan seseorang, maka reflek kita akan menatap wajahnya, lalu secepat itu pula kita akan melontarkan senyum sapaan kepadanya. Lalu kita akan mendapatkan balasan yang sama sebagai refleksi dari sikap kita yang telah menghadiahkan "keindahan" kepadanya.

Pada saat yang lain kita akan berjumpa dengan orang yang tidak membalas senyuman kita. Orang itu tetap cemberut meski kita  telah menunjukkan wajah yang manis. Kita tidak menyesal telah memberinya senyum, karena senyuman itu adalah mudah dan menyehatkan. Terlebih lagi ia adalah suatu perbuatan mulia karena dalam Islam hal itu dikategorikan sebagai shadaqah. Perkara apakah orang lain akan membalasnya atau tidak, maka itu adalah urusannya sendiri.

Setelah berada di kamar, kita bercermin sembari memperhatikan kondisi fisik wajah kita. Apakah ada jerawat? Atau ada sesuatu yang berkurang keindahannya.... Alhamdulillaah... baik-baik saja. Maka kita segera tersenyum pada cermin dan kita akan melihat wajah di dalam kaca itu membalas senyum kita dengan tulus. Hati kita semakin merasakan kebahagiaan oleh sesuatu yang sederhana.

Betapa senyuman itu adalah hal yang remeh namun tidak semua orang dikaruniai hal ini. Banyak kita jumpai orang-orang yang berwajah cemberut terus-menerus seperti sedang dihimpit oleh masalah sepanjang masa. Dan ada pula yang wajahnya dihiasi senyum namun dengan tatapan kosong, yang akan memupuskan keindahan senyum......

Alhamdulillaah.... kita masih diberi kesempatan dalam hidup ini untuk menghadiahkan hal yang remeh namun ternyata banyak orang tak mampu untuk menghadirkan hal ini. Yakni senyum......

&

Jumat, 23 Oktober 2015

Fokus

Pernahkan anda merasakan ketika sedang melakukan sesuatu lantas tiba-tiba menjadi salah tingkah karena merasa ada orang yang mengamati anda? Padahal belum tentu orang itu melakukan hal demikian. Itu perasaan anda saja. Bahkan apabila benar dia melakukannya, apa urusan kita? Apa pentingnya bagi kita? Kecuali jika dia bermaksud jahat, itu lain hal.

Ketika melakukan sesuatu yang penting maka sikap yang demikian itu akan sangat mengurangi konsentrasi sehingga hasil yang dicapai tidak akan maksimal, karena energi tidak fokus dan terbagi ke banyak sudut yang mestinya tak perlu.

Mirip seorang peserta lomba maraton yang sibuk menanggapi komentar para penonton, maka tugas utamanya untuk berlari dengan irama dan kecepatan tertentu menjadi tertanggu. Alhasil bisa ditebak, semua itu terjadi karena banyaknya energi yang terbuang lantaran mengurusi hal-hal yang tidak perlu dan bukan tujuan perjalanannya.

Maka fokuslah. Tak ada yang membahayakan diri seseorang selagi ia melangkah dalam kesibukan yang positif dan tidak mengganggu hak orang lain. Singkat namun itulah praktiknya.

&

Cara Hidup Senang dan Bahagia

Bicara senang atau bahagia, maka ini jelas perkara hati. Maka seharusnya kita setuju bahwa hal ini tidak berbanding lurus dengan banyaknya materi yang kita miliki. Artinya, bila seseorang itu kaya harta, maka tidak serta merta ia menjadi senang atau bahagia. Bahkan yang sering kita jumpai adalah banyak orang kaya yang merana dan kehilangan makna hidupnya lantaran jenuh tak mendapatkan lagi apa yang harus ia cari.


Nah sekarang cobalah kita mengamati bagaimana orang yang hilang akalnya mayoritas mengumbar senyum atau bahkan sering tertawa. Jika kita berfikir positif dan mencoba memahami perasaannya, maka pastilah ia sedang merasakan sesuatu yang menyenangkan hatinya. Meskipun tak ada satupun di antara kita yang bersedia untuk menjadi orang yang kehilangan akal. Ini jelas.


Jika kita fikir lebih mendalam, maka yang namanya senang dan bahagia itu adalah refleksi dari rasa puas karena jiwa kita telah rela terhadap suatu keadaan. Artinya, kunci perasaan senang tadi adalah kepuasan. Padahal yang namanya puas adalah relatif, apakah cukup dengan uang Rp. 1000, atau Rp. 5000, atau lebih banyak lagi. Nah makin tinggi yang kita inginkan maka rasa puas yang harus kita daki adalah semakin tinggi. Dan ini tentu memicu kelelahan jiwa untuk menggapainya apabila telah sampai pada angka tertentu yang sulit atau bahkan tidak mungkin dijangkau oleh kemampuan kita. Nah di sinilah letak persoalannya.....


Siapapun orangnya, dimanapun dan kapanpun, kerelaan dan bersyukur adalah kunci dan syarat mutlak untuk hidup bahagia. Meskipun kita memiliki harta sebanyak bumi dan angkasa, jika hati kita menolak untuk mensyukurinya, maka jangan harap bahagia itu akan datang. Maka bahagia itu sesungguhnya tidak jauh dari diri kita, bahkan ada pada diri kita. Bahkan setiap orang berhak dan mudah mencapainya karena semua itu ada di dalam hati setiap insan yang terbebas dari keserakahan....


&